Monthly Archive for August, 2005

Berapa lama kita dikubur?

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas
jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet.

Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang
es krim. Sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan
kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya. Yani dan ayahnya memasuki wilayah
pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok
nisan.

“Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965″
“Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo’a untuk nenekmu” Yani melihat wajah ayahnya,
lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata
seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo’a untuk neneknya…

“Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya Yah.”
Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.
“Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya Yah…” kata Yani berlagak sambil
matanya menerawang dan jarinya berhitung.
“Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun … ”

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping
kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut “Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-01-1910″

“Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya Yah” jarinya menunjuk
nisan disamping kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat
mengelus kepala anak satu-satunya.
“Memangnya kenapa ndhuk ?” kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.
“Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita
banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka” kata Yani sambil meminta persetujuan
ayahnya. “Iya kan yah?”
Ayahnya tersenyum, “Lalu?”
“Iya .. kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di
kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur
…. ya nggak yah?”
Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas …..
“Iya nak, kamu pintar,” kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah diatas sajadahnya, memikirkan apa
yang dikatakan anaknya …
36tahun …hingga sekarang …kalau kiamat datang 100 tahun lagi ….136 tahun
disiksa …atau bahagia di kubur ….
Lalu ia menunduk … meneteskan air mata …
Kalau ia meninggal .. lalu banyak dosanya …lalu kiamat masih 1000 tahun lagi
berarti ia akan disiksa 1000 tahun?
Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un … air matanya semakin banyak menetes…..
Sanggupkah ia selama itu disiksa?
Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan ..kalau 2000 tahun lagi ? Kalau 3000 tahun lagi?
Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur?
Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli
massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah …ia semakin menunduk .. tangannya terangkat keatas..bahunya naik turun
tak teratur…. air matanya semakin membanjiri jenggotnya …..
Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga
suaranya serak … dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu… dibetulkannya selimutnya.
Yani terus tertidur …tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya
karena telah menyadarkannya .. arti sebuah kehidupan… dan apa yang akan datang di
depannya…

The Most Dangerous Man

Sosok Lendo Novo, mungkin, belum terlalu dikenal publik. Dia adalah tenaga ahli Kementerian BUMN Bidang Pengolahan Data, Informasi, dan Investigasi. Tapi, jangan terkecoh dengan jabatannya. Sebab, dia memiliki staf rahasia yang bekerja bak agen intelijen. Mantan aktivis mahasiswa ITB yang pernah dipenjara pada era Orde Baru itu diberi tugas khusus, yakni membersihkan BUMN dari korupsi. Kepada wartawan Jawa Pos, Sofyan Hendra, dia menuturkan ihwal pekerjaannya.

Sudah dengar julukan “orang yang paling ditakuti” yang dialamatkan kepada Anda oleh direksi BUMN?

Saya dengar begitu. Tapi, lebih tepat, julukannya “the most dangerous man”. Sebab, (pekerjaan saya) memang bersinggungan langsung dengan perilaku tidak baik yang dilakukan sebagian besar direksi dan manajemen BUMN di masa lalu. Itu sudah menjadi rahasia umum dan bukan sesuatu yang dicari-cari. Namun, semua mafhum (paham) bahwa penyalahgunaan kekuasaan itu ada. Nah, tugas saya adalah meluruskan supaya mereka tidak melenceng dari garis kebijakan maupun ketentuan yang ada. Kalau mereka benar, ya tidak perlu takut.

Dari mana munculnya istilah tersebut?
Wah, saya kurang tahu juga. Namun, yang muncul kayak gitu. Karena, kita mungkin dianggap bersikap tegas dan bekerja secara profesional.

Tanggapan Anda atas julukan itu?
Ya, mudah-mudahan julukan itu segera hilang. Supaya direksi-direksi itu bisa bekerja dengan tenang. Jika direksi kerjanya lurus, kan saya juga tidak akan ngapa-ngapain. Saya kan tidak cari-cari kesalahan. Itu jaminan dari saya.

(Ruang kerja pribadi Lendo di Kementerian BUMN terlihat sederhana. Kursi kerjanya pun sama dengan kursi tamu. Tidak ada komputer di mejanya. Yang ada hanya setumpuk berkas dan majalah. Kesederhanaan itu klop dengan sosok Lendo. Saat berbicara, sesekali dia tersenyum. Gaya bicaranya pun halus)

Bagaimana ceritanya sehingga Anda bisa ditugaskan di posisi sekarang?
Kebetulan saya diminta Pak Menteri untuk membantu beliau menjadi tenaga ahli menteri untuk memberantas korupsi di BUMN. Kedua, memang ada inpres tentang percepatan pemberantasan korupsi yang dipimpin langsung oleh presiden. Yang ketiga, di BUMN ini, tidak ada satu unit kerja khusus yang memiliki fungsi pengawasan. Kan kalau di departemen ada inspektorat jenderal. Kementerian negara tidak memiliki irjen sehingga beliau merasa perlu menunjuk salah satu tenaga ahli untuk melakukan upaya pemberantasan korupsi. Tapi, agak berbeda dengan irjen karena yang diawasi BUMN.

Mungkin saya dianggap cukup berani dan profesional untuk menangani pekerjaan itu sehingga langsung diminta Pak Menteri. Sebab, prasyarat dasar untuk memberantas korupsi kan harus bersih dulu. Kan nggak mungkin kita bersih-bersih, sementara sapunya kotor. Itu kan pepatah yang telah dikenal masyarakat.

Berapa staf yang Anda miliki?
Wah, yang ini nggak boleh diekspos. Nanti ketahuan ha … ha … ha (sambil tertawa). Saya di sini sendirian. Staf saya ada di luar. Kita memang punya tim khusus dan semuanya profesional dengan pengalaman rata-rata 15 tahun. Ada ahli intelijen, penyidikan, audit keuangan, audit forensik, dan sebagainya. Kalau nggak profesional, kan kita nggak mungkin seperti ini. Jadi, saya di sini istilahnya jadi martir saja. Yang jadi serangan dari koruptor, ya saya. Tapi, itu bagian dari pilihan hidup.

Kabarnya, Anda menaruh orang di BUMN?
Ya. Jadi, begini, pandangan soal strategi pemberantasan korupsi yang sudah dilakukan oleh pemerintah sejak dulu itu adalah post-audit. Setiap tahun diadakan audit di akhir kinerja. Kalau kita memakai sistem seperti itu, sudah dikorupsi baru kita tangani. Kan ini tidak baik. Sebagai strategi jangka panjang, juga tidak efektif.

Akhirnya, kita mengambil cara yang lain yang disebut sebagai financial intelligence. Maka, jika di sebuah institusi diduga ada upaya tindakan korupsi, seperti mark up dan sebagainya, bisa diindikasi lebih dulu sebelum waktunya. Sehingga, orang-orang yang ditanam itu bisa memberikan sinyal kepada kami. Rencana anggaran perencanaan yang berbeda dengan
nilai kontrak, misalnya. Sebelum dilakukan pelaksanaannya, sudah bisa kita cegah.

Dengan strategi financial intelligence ini, diharapkan lima tahun ke depan BUMN bisa mengurangi segala bentuk korupsi. Sehingga tidak terjadi hal-hal, seperti sekarang ini. Setelah terjadi korupsi, baru ditangkapi.

Apa tidak sulit mencari orang-orang seperti itu?
Saya pikir sebagian masyarakat sepakat untuk mencegah korupsi. Sebab, kalau korupsi bisa diberantas, masyarakat dipastikan juga bisa ikut sejahtera. Kalau korupsi kan cuma untuk sebagian kecil orang. Artinya, korupsi bisa dijadikan common enemy. Yang namanya koruptor itu ya musuh bersama. Kita tinggal melihat orang-orang yang kita anggap bersih, kita ajak bekerja sama, pasti setuju. Bahkan, kontraktor, misalnya, dengan senang hati mau memberikan informasi kepada kami ketika terjadi rencana tender yang tidak sehat. Ketika tidak sehat, kemungkinan menangnya kan kecil, dia laporkan ke kita.

Saya dengar, beberapa kontraktor yang melapor kepada saya, katanya, sekarang enak. Kontraktor sudah nggak takut. Dan, direksinya juga lebih nyaman harusnya karena dulu dipaksa mark up oleh rezim, sekarang tidak. Sekarang bisa lebih adil. Orang-orang yang bersih itu sebenarnya sangat banyak. Meski banyak bukan dalam arti majority, tapi signifikan. Kalau saya ada 158 BUMN, saya mencari 300 orang itu nggak sulit kok. Itu saya yakin.

Kini, hampir semua serikat pekerja BUMN committed terhadap pemberantasan korupsi. Kita juga sudah pertemukan mereka dengan direksi agar tidak terjadi saling curiga.

Apakah orang yang Anda tanam itu tidak kesulitan?
Wah, banyak direksi yang sudah tahu keberadaan mereka langsung melakukan teror. Ada yang dimutasi dan diancam dipecat. Itu bagian dari perjuangan kami.

Berarti, rata-rata orang yang Anda tanam adalah orang dalam BUMN?
Memang harus seperti itu. Jadi, orang dalam yang committed terhadap misi kami, ya kami ajak. Orang luar memang ada yang masuk melalui tim audit.

Adakah yang meminta mundur karena tidak tahan dengan pekerjaan yang penuh risiko ini?
Alhamdulillah, sampai hari ini belum ada. Mereka semua masih mau mengabdi kepada negara.

Apa benar Anda juga menyadap telepon para direksi BUMN?
Kalau itu, saya tidak bisa berkomentar.

Apakah hasil laporan Anda selalu mendapat respons baik dari Men BUMN?
O, ya. Cuman kan beliau saat ini mengalami kesulitan karena ada eselon 1 yang jarang masuk. Ada yang sudah pensiun dan belum terisi. Sementara level eksekusi bukan di menteri. Menteri kan harus policy. Pada saat deputi menteri belum berganti, beliau mengalami kesulitan sampai hari ini. Tapi, begitu pengisian deputi ini cepat dilakukan, saya yakin pemberantasan korupsi akan semakin kencang. Ini penting buat kita supaya target Pak Menteri untuk mencapai dividen Rp 11 triliun itu tercapai. Cara yang paling efektif itu kan efisiensi dan profit. Efisiensi itu ya yang paling jelas harus dilakukan, yaitu mencegah korupsi.

Ada kemungkinan terjerumus dalam informasi yang tak akurat dan kemudian mencelakakan direksi BUMN yang bersangkutan?
Kemungkinan itu ada. Tapi, sebelum sebuah kasus dinyatakan matang, kita belum akan laporkan ke menteri. Begitu tidak valid, kan berarti menjurus kepada fitnah. Dan, itu sangat kami hindari.

Jadi, kasus-kasus yang sudah diekspose ke publik saat ini pasti valid informasinya?
Valid. Kita bisa pertanggungjawabkan.

Apa Anda juga melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan?
Kalau klarifikasi kepada yang bersangkutan, tentu tidak. Karena itu bagian atau wewenang KPK, kejaksaan, dan lainnya. Kami kan hanya memberi masukan. Nanti kami laporkan kepada kepolisian untuk ditinjaklanjuti. Seperti sekarang,  Timtastipikor yang kita beri laporan 16 BUMN itu sudah dipanggil semua. Nah, itu tugas mereka.

Kalau saya mah nggak klarifikasi. Nanti mereka malah menghilangkan barang bukti. Saya mencegah itu. Sebagian besar direksi ingin ketemu saya untuk klarifikasi. Saya bilang, pertama, bukan wewenang saya. Kedua, sebaiknya tidak usah takut. Selama merasa tidak melakukan korupsi, tidak perlu takut. Kalau sudah korupsi, baru boleh ketakutan. Sebelum diinvestigasi, misalnya, temuan saya cuma satu kasus. Begitu dilakukan audit investigasi, bisa lima kasus pulangnya. Dan, itu sangat mungkin. Saya yakin betul, dari 16 BUMN itu, kemungkinan banyak temuan baru kalau dilakukan audit investigasi.

Apakah tindakan sama juga Anda lakukan terhadap BUMN yang sudah go public.
Ya. Semua potensinya sama.

Apa tidak cukup transparansi BUMN yang sudah go public?
Nggak perlu di Indonesia. Yang di Amerika saja, yang good corporate governance-nya sudah tinggi, korupsi tetap ada. Ini kan masalah khilaf. Jadi, meski sistem dibentuk sedemikian rupa, orang khilaf itu pasti.

Cara yang Anda lakukan itu tidak terlalu personal?
Kita sih menginginkan sebuah negara itu ada tempat untuk pemberantasan korupsi. Jangan karena nggak ada terus kita langsung berlepas tangan. Cara yang digunakan seperti ini. Kalau dimungkinkan nanti perubahan aturan sehingga akan dibentuk lembaga yang berbeda, kita ya senang-senang saja.

Apakah tidak bisa dibuat sistemnya?
Kalaupun nanti ada sebuah institusi resmi, ya saya tinggal menyerahkan saja.

Anda tidak takut jabatan dengan wewenang luar biasa ini diisi orang yang
tidak seidealis Anda? Artinya, apa tidak bisa dibuat sistemnya sehingga
tidak terjadi kekhawatiran seperti itu?
Bisa ya, bisa tidak. Saya percaya betul kepada Bapak Presiden. Kalau
memang ada perubahan segala macam, kan tetap dalam rangka pemberantasan
korupsi. Kami sudah menyiapkan sistem dan konsep. Jadi, siapa pun nanti
kalau ada perubahan yang mengisi jabatan, sudah bisa kita siapkan. Yang
penting, saat ini kami telah bekerja. Yang terakhir, kita serahkan
kepada Yang Paling Atas.

Adakah direksi BUMN yang mencoba berbaik-baik dengan Anda?
Itu pasti. Rata-rata, mereka kenal saya. Apalagi, kalau menyuruh orang
lain untuk mendekati saya, lebih banyak lagi. Tapi, saya bilang, kalau
mereka bayar orang untuk melobi, malah rugi. Sebab, uang pasti keluar
(untuk bayar pelobi, Red). Kan rugi dia. Saya suggest sudah-lah nggak
usah. Kasus itu dihadapi saja. Kalau yakin nggak korupsi, ya sudah. Kita
juga tidak pernah melakukan penganiayaan kepada para direksi. Kami
bekerja secara profesional. Jadi, saya anjurkan tidak usah.

Bagaimana Anda melawan godaan materi?
Mudah-mudahan saya bisa sabar. Satu-satunya yang bisa melawan itu kan
iman dan integrity kita. Siapa yang tidak suka terhadap materi. Yang
bisa menolak itu kan cuma imannya masing-masing. Selama imannya kuat,
saya jamin bisa melawan godaan.

Berapa Anda digaji?
Wah, nggak usahlah. Karena itu rahasia dapur ha … ha.
Tapi, cukup untuk melawan godaan itu?
Insya Allah cukup. Kami ini orang-orang profesional. Kalau di
kementerian itu kita bukan di struktural, lebih ke fungsional. Kami
umumnya adalah kalangan yang anggap saja sudah cukup dan mapan. Saya kan
juga sudah memiliki pekerjaan sebelumnya, memiliki perusahaan. Insya
Allah kalau yang ’gitu-gitu’ nggak. Kecukupan itu kan tidak harus lewat
materi yang banyak.

Apa tawaran yang paling tinggi?
Wah, ya banyak. Ada uang, kendaraan, besarlah. Kalau mau nonton pameran
Auto Expo (Gaikindo Auto Expo, Red) tinggal milih. Bisa itu ha … ha.
Kalau yang dulu itu, memang pernah ditawari Jaguar. Tapi, karena saya
tolak dengan baik, ya sampai sekarang tidak ada yang berani menawari
lagi.

Pernah ada ancaman?
Empat bulan lalu. Waktu itu di Jalan Sudirman (Jakarta), saya dibacok
pakai golok (sambil menunjukkan bekas luka di pergelangan tangannya).
Kesimpulan polisi, itu memang teror karena waktu itu Mercy yang ada di
sebelah tidak dirampok. Sedangkan saya cuma naik Taruna. Itu pun hanya
dirusak. Alhamdulillah, saya bisa selamat.

(Di balik tugasnya yang penuh risiko, Lendo adalah pencetus dan
konseptor Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). Konsep ini menginspirasi
berdirinya 800 SDIT yang begitu digandrungi muslim di
perkotaan. Lendo juga dikenal sebagai penggagas Sekolah Alam, yakni
sekolah yang menjadikan alam untuk mengganti prasarana fisik
konvensional. Saat ini sudah berdiri 200 sekolah alam di berbagai kota
besar)

Bisa diceritakan aktivitas Anda sebelum ini?
Saya lama di LSM. Kurang lebih 15 tahun. Seperti membuat Perkumpulan
untuk Usaha Kecil dan membuat sekolah. Saya sudah membuat kurang lebih
800 sekolah. SDIT itu kebetulan saya pencetusnya. Sekolah Alam juga.
Saat ini sudah muncul 200 sekolah alam. Saya juga berwirausaha,
mendirikan perusahaan.
Perusahaan apa?
(Berpikir sebentar) Janganlah. Tapi, saya jamin itu perusahaan baik-baik
ha … ha. Di LSM, mungkin, yang dulu paling banyak menyita aktivitas
saya.

Kabarnya, Anda pernah dipenjara saat mahasiswa?
O, ya. Saya pernah dipenjara selama 7 bulan oleh rezim Orde Baru. Tahun
1989 waktu itu. Saat itu, Pak Rudini datang ke ITB, lalu kita
demonstrasi menolak Pak Rudini datang ke kampus kami.

Apa tuntutannya waktu itu?
Waktu itu, tersebar luas di publik bahwa Pak Rudini dianggap sudah
berani berseberangan dengan Pak Harto. Tapi, begitu kita lacak,
sebenarnya tidak ada sesuatu yang menunjukkan perlawanannya kepada Pak
Harto. Artinya, tidak seperti yang diberitakan di koran-koran. Waktu
itu, kami bilang you bagian dari orang-orang itu.

Aktif di mana waktu itu?
ITB. Saya pernah menjadi Sekjen Forum Komunikasi Himpunan Jurusan (FKHJ)
ITB. Itu seperti dewan mahasiswa yang pernah dibreidel Daoed Joesoef
(mantan Mendiknas, Red) melalui NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan
Kampus/Badan Koordinasi Kampus). Semua ketua dan staf jurusan lalu
bergabung membentuk FKHJ. Salah satu ketua himpunan jurusan waktu itu
Hotasi Nababan (kini, dirut Merpati). Masih ada lagi di beberapa BUMN
lain, cuma bukan dirut. Di atas saya satu tahun, ada Pramono Anung
(Sekjen PDIP). Dulu, dia pernah saya tugaskan membentuk satgas FKHJ.

(Lendo agak tertutup saat disinggung soal keluarganya. Maklum, pekerjaan
berisiko ini harus mempertimbangkan keamanan keluarganya pula. Namun,
dia sangat antusias saat menceritakan ayahnya)

Bagaimana dukungan dari keluarga?
Kalau ada ancaman, ya ketakutan lah. Itu pasti. Ya mudah-mudahan mereka
bisa sabar. Yang jelas, mereka mendukung.

Anda lahir dari keluarga aktivis?
Iya. Ayah saya, Zuardin Azzaino, dulu pekerja di Bank Indonesia. Beliau
14 tahun tak naik pangkat gara-gara jadi ketua Serikat Pekerja Bank
Seluruh Indonesia. Beliau penulis buku-buku Islam juga lho. Saya punya
anak lima. Tiga laki-laki, dua perempuan.

Kabarnya, Anda aktif di Partai Keadilan Sejahtera?
Wah, kalau itu sudah banyak yang tahu. Saya memang simpatisan PKS. Di
era seperti ini, saya pikir saya memang harus masuk politik riil. Dan,
tempat yang sesuai dengan idealisme saya, ya PKS. Orang-orangnya bisa
menolak uang, mengembalikan amplop, menolak kenaikan gaji dewan.
Lagipula, saya memang sudah banyak terjun di dunia aktivis.

Sejatinya, Indonesia bisa menjadi bangsa besar. Tapi, mungkin banyak
yang khilaf, ’kesurupan’, dan senang yang instan-instan. Utang, terus
tilep. Yang membuat kita miskin kan itu. Kalau 30 persen yang bocor,
utang Rp 1.000 triliun berarti Rp 300 triliun dikorupsi. (sofyan hendra)

Nama : Lendo Novo
Tempat/Tgl Lahir : Jakarta, 6 November 1964
Pekerjaan : Tenaga Ahli Bidang Pengolahan Data, Informasi, dan
Investigasi
Pendidikan : S1 Teknik Perminyakan ITB
S2 Resource Energy Management ITB
Nama Istri : Yusri
Anak : 5 orang (3 putra, 2 putri)

Sumber: Jawa Pos.

Roti Hangus…

Seorang ahli pendidikan bertanya pada tiga orang ibu yang ditunjuk dari
para peserta sebuah pelatihan.

Ahli pendidikan (AP) : ”Misalkan suatu pagi Anda sedang menyiapkan
roti bakar untuk sarapan suami Anda, tiba-tiba telepon berdering,
anak Anda menangis, dan roti bakar jadi hangus. Lalu suami Anda
berkomentar : ‘Kapan kamu akan belajar memanggang roti
tanpa menghanguskannya?’ Kira-kira, bagaimana reaksi Anda?”

Ibu 1 : ”Langsung saya lemparkan roti itu ke mukanya!”
Ibu 2 : ”Saya akan katakan padanya, ‘Bangun dan bakar sendiri
rotinya!”
Ibu 3 : ”Saya rasa saya akan menangis.”

AP : ”Lalu bagaimana perasaan Anda terhadap suami Anda?”
Semua : ”Marah, benci, dan merasa dianiaya.”

AP : ”Mudahkah bagi Anda untuk menyiapkan roti bakar lagi pagi itu?”
Semua : ”Tentu saja tidak.”

AP : ”Dan jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda
untuk membereskan rumah dan belanja kebutuhan sehari-hari dengan
lapang dada?”
Ibu 1 : ”Tidak. Saya akan merasa sumpek sekali sepanjang hari.”
Ibu 2 : ”Saya tidak akan membeli apapun untuk keperluan rumah hari
itu.”

AP : ”Katakanlah bahwa roti itu memang hangus. Tetapi suami Anda
mengatakan kepada Anda, ‘Tampaknya pagi ini kamu lelah ya… telepon
berdering, anak menangis, dan sekarang roti hangus’, kira-kira apa
reaksi Anda?”
Ibu 1 : ”Saya tidak percaya bahwa yang berbicara itu adalah suami
saya.”
Ibu 2 : ”Saya akan merasa bahagia.”
Ibu 3 : ”Saya akan merasa senang, dan saya fikir,saya akan
memeluknya.”

AP : ”Mengapa Anda gembira? Bukankah anak tetap menangis, telepon
berdering, dan roti sudah hangus..?”
Semua : ”Saya tidak akan peduli dengan semua itu.”

AP : ”Lalu apa yang berbeda kali ini?”
Ibu 1 : ”Saya merasa suami saya baik sekali, karena tidak
menyalahkan saya, melainkan memahami perasaan saya. Dia berpihak
pada saya, bukan memusuhi saya.”

AP : ”Jika suami Anda pergi bekerja, akan mudahkah bagi Anda untuk
melakukan tugas-tugas rumah tangga?”
Ibu 2 : ”Saya akan melaksanakan tugas-tugas saya dengan senang
hati.”

AP : ”Sekarang, mari kita bicara tentang suami tipe ketiga.
Setelah roti itu hangus, ia memandang istrinya sambil mengatakan, ‘Nih,
saya ajari kamu cara membakar roti!”’
Semua : ”Tidak. Suami macam itu lebih buruk lagi dari yang
pertama, sebab ia menganggap saya dungu.”

Saat itu, ahli pendidikan itu mengatakan :
”Bagaimana kalau apa yang suami Anda lakukan kepada Anda itu, Anda
lakukan kepada anak Anda?”

Ibu 1 : ”Sekarang saya mengerti tujuan Anda membuka dialog ini.
Saya memang selalu mengkritik anak saya, tanpa saya sadari. Saya selalu
mengatakan, ‘Kamu sudah besar, sudah harus tahu bahwa apa yang
kamu lakukan itu salah’. Saya sekarang tahu mengapa ia marah dengan
kata-kata saya.”

Ibu 2 : ”Saya juga selalu mengatakan, ‘Biar saya tunjukkan padamu
cara melakukan ini dan itu.’ Dan sering kali anak saya marah saat
mendengarnya.”

Ibu 3 : ”Saya sering mengkritik puteri saya hingga hal itu menjadi
hal yang biasa bagi saya. Dan saya sering mengulang-ulang kalimat
yang dulu diucapkan ibu saya kepada saya, jika memarahi saya, saat
saya kecil. Dulu, saya juga sangat tidak suka mendengar ibu
mengatakannya.”

AP : ”Kalau begitu, mari kita cari tahu yang mungkin kita pelajari
dari kasus roti hangus ini. Apa yang membantu mengubah perasaan
Anda dari benci menjadi senang terhadap suami Anda?”

Ibu 1 : ”Saya yakin sebabnya adalah karena suami tidak menyalahkan
saya,tetapi dia memahami perasaan saya.”
Ibu 2 : ”Tanpa mencela saya.”
Ibu 3 : ”Tanpa mendikte saya.”

Setelah sampai pada yang dituju, ahli pendidikan itu mengatakan,
”Sekarang Anda semua mengerti bahwa apa yang Anda inginkan dari
suami Anda, itulah yang diinginkan pula oleh anak-anak kita dari
kita : PENGERTIAN dan EMPATI”.

CANCER

CANCER
Berwatak teguh dan mantap dalam pendirian dan sikap. anda senang bertindak hati2 dan peka. perasaan halus dan mudah tersinggung. untuk lebih sukses sebaiknya anda memperluas pergaulan. anda tidak mudah untuk melupakan semua peristiwa. sering melamun dan berkhayal. rejeki bagus walau karier sering mendapat hambatan.

Sifat umum:
Mudah tersinggung, tergesa-gesa dalam tindak tanduknya. Kurang sabar, pemalu. Ingin memperoleh sesuatu secara mujizat/ ajaib. Pandai menyimpan rahasia hatinya. Pandai mengatur rumah tangga, mencari pengaruh, suka akan kebatinan,mistik, disiplin. Sayang kepada keluarganya, suka merantau.

Cancer sebagai suami
Pemalu, segan/takut bergaul dengan orang banyak. Ingin agar hasil karyanya mendapat penghargaan dari orang lain. Perasaannya mudah tersinggung. Romantis dalam percintaan. Suka mendendam terhadap orang yang menghinanya.

Cancer sebagai isteri
Perasaan halus, mencintai suami lahir batin secara mendalam.Ingin membina yang baik, patuh, pandai mengurus rumah tangga, tidak takut berkorban. Teguh memegang tradisi kuno.

Perkawinan dan sex:
harmonis dan ideal jika menikah diatas 24 tahun dan memperoleh jodoh sesuai bintangnya. sangat setia terhadap perkwainan. sangat bergairah dalam urusan sex.

Pengaruh planet:
Bulan

Zodiak jodoh :
capricornus, pisces, taurus, virgo, scorpio

Batu:
emerald hitam, onyx putih, jamrud

Warna:
coklat, kuning, hijau, ungu.